Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Lebah Berkembang Biak?

Di antara yang paling ajaib dari lebah adalah hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, yaitu perkembangbiakannya. Apakah dengan cara kelahiran atau metamorfosis. Amat sedikit orang yang mengetahuinya.

Sebenarnya perkembangbiakan lebah tidaklah menurut salah satu dari kedua cara itu, melainkan dengan cara yang amat ajaib. Apabila lebah pergi mencari makan, dia mengambil bagian-bagian bunga yang bersih yang berada di atas daun lalu menghisapnya. Dan, itulah bahan madu. Kemudian dia menghimpit bagian-bagian yang terbentuk di permukaan daun lalu mengikatnya di kaki seperti sebuah adas. Setelah itu meletakkannya di ruang-ruang segi enam yang tidak berisi madu. Kemudian sang ratu mengelilingi sarangnya satu per satu dan meniupnya semua. Dari proses ini, nafas kehidupan menjalar di sana dengan izin Allah SWT, lalu keluarlah lebah-lebah yang dapat terbang dengan izin-Nya.

Itu sebagian dari keajaiban lebah yang amat sedikit diketahui orang. Dan, itu semua adalah buah dari ilham-Nya yang membuat lebah dapat mengatur, berkeliaran, hidup, membangun, dan berkembang biak. Tanyailah orang yang ingkar, siapa yang mengilhaminya dan menjadikan perilaku tersebut bagian dari tabiatnya? Siapa yang memudahkan jalan-jalan itu sehingga ia tidak tersesat betapapun jauhnya ia pergi? Dan, siapa yang mengeluarkan dari bunga sesuatu yang apabila dihisap oleh lebah, maka ia mengubahnya menjadi madu murni yang bermacam-macam warnanya, amat manis, dan lezat? Khasiatnya lebih besar dari apa yang terlihat. Coba sebutkan kepadaku siapa yang mendatangkannya?

Mereka mengatakan bahwa ini madu paling berkualitas yang dikenal oleh banyak orang, paling murni, dan paling bagus. Karena, rasanya lebih lezat daripada manisan yang berwarna merah, hijau, hitam dan Iain-lain dari berbagai jenis makanan menurut bahan-bahannya. Coba Anda perhatikan khasiat dan kesembuhan yang terdapat di dalamnya, juga dimasukannya madu menjadi bahan obat-obatan pada umumnya. Sampai-sampai orang-orang dahulu tidak mengenal gula, bahkan tidak pernah disebutkan namanya di dalam kitab-kitab mereka. Yang mereka pakai dalam obat-obatan adalah madu, dan madu itulah yang tersebut di dalam kitab-kitab mereka.

Demi Allah, madu lebih besar manfaatnya daripada gula. Ia sangat ampuh untuk membersihkan lendir-lendir, memperkuat lambung, membuat hati gembira, dan sangat membantu kerja obat dalam mengeluarkan penyakit dari dalam tubuh. Oleh karena itu, tidak pernah disebutkan dalam satu hadits pun kata 'gula', dan bahkan mereka dahulu tidak mengenalnya sama sekali.

Seandainya di dunia tidak ada gula, manusia merasa tidak apa-apa. Tapi, kalau madu yang tidak ada, mereka akan pusing mencarinya karena amat butuh. Akan tetapi di sebagian kota, gula lebih banyak dipakai, sampai penduduknya meninggalkan madu, menganggap gula lebih enak dan lebih rendah panas (kalori)nya dari madu. Mereka tidak tahu bahwa di antara manfaat madu adalah kalori dan panas yang terkandung di dalamnya. Kalau kalori itu tidak sesuai dengan orang yang mengkonsumsinya, dia dapat menetralisir dengan lawannya. Dan, insya Allah kami akan menyusun satu makalah tersendiri untuk menjelaskan kelebihan madu atas gula dari beberapa sisi dan dengan bukti-bukti yang tak dapat disangkal.

Gula tidak dapat membersihkan dahak, mencairkan lendir yang membeku, atau menyembuhkan penyakit. Paling jauh khasiatnya hanya membantu obat masuk ke dalam urat-urat syaraf sebab ia lembut dan manis. Adapun kesembuhan dengan madu, Allah telah menghalanginya dari kebanyakan manusia sehingga mereka mencela madu dan takut terhadap efek panasnya. Dan tak diragukan bahwa meskipun madu adalah obat, sebagaimana Al-Qur'an, shalat, dan zikir adalah obat, hal itu tidak berarti meliputi semua tabiat manusia.

Lihatlah Kitabullah ini! Ia merupakan obat yang mujarab, obat yang paling ampuh. Tetapi, alangkah sedikitnya orang yang berobat dan mencari kesembuhan dengannya. Bahkan, Al-Qur'an tidak menambah jiwa-jiwa yang rendah selain kerendahan, dan hanya menambah kerugian kepada orang-orang zalim. Demikian pula zikir kepada Allah SWT, menghadap kepada-Nya, dan mengerjakan shalat. Berapa banyak orang yang sakit menjadi sembuh dengannya. Tapi Anda lihat beberapa—bahkan kebanyakan—manusia sama sekali tidak mendapat kesembuhan dengan hal-hal itu.

Di beberapa kitab karangan para dokter muslim, aku menjumpai disebutkannya shalat sebagai salah satu obat. Penulis menyebutkannya dalam bab khusus tentang obat-obatan, tepatnya pada urutan huruf shad. Dia menyebutkan pula beberapa manfaat pengobatannya bagi badan, juga manfaatnya bagi ruh dan hati.

Dan ketika guru kami, Ibnu Taimiyah, sakit, lalu seorang dokter menasihatinya, "Yang paling berbahaya bagi Anda adalah mengajar, merenungkan ilmu, dan berzikir," maka ia berkata, "Bukankah kalian berpendirian bahwa apabila hati seseorang kuat dan gembira, maka kegembiraan itu secara alamiah menimbulkan kekuatan yang membantu menolak penyakit?" Sang dokter menjawab, "Benar!" Maka, ia berkata, "Apabila aku sibukkan hatiku dengan zikir, mengajar, merenungkan ilmu, atau aku berhasil mengungkap ilmu yang musykil, hatiku gembira dan kuat; dan itu dapat mengusir penyakit."

Yang ingin kami jelaskan bahwa meski banyak orang tidak mau berobat dengan madu, hal itu tidak berarti dia bukanlah obat. Persis sebagaimana banyak orang tidak mau berobat dengan Al-Qur'an dari penyakit-penyakit hati tidak berarti bahwa Al-Qur'an bukan obat penyakit hati. Al-Qur'an adalah obat bagi penyakit yang ada di dada meski kebanyakan penderita tidak berobat dengannya. Allah SWT berfirman,


"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

Dalam ayat ini, Dia menyatakan mau 'izhah (pelajaran) dan syifa (penyembuh) untuk umum, sedang huda (petunjuk) dan rahmat untuk kalangan khusus.

Jadi, Al-Qur'an itu sendiri adalah obat (syifa) baik dipakai untuk berobat maupun tidak. Dan dalam Kitab-Nya, Allah SWT tidak pernah menyifati sesuatu dengan 'syifa' kecuali Al-Qur'an dan madu. Yang pertama adalah obat hati. dari penyakit-penyakit kesesatan, syubhat, dan syahwat; dan yang kedua adalah obat raga dari beragam penyakit jasadi.

Selama beberapa hari tinggal di Mekah, aku menderita beberapa penyakit. Di sana tidak ada tabib atau obat seperti di kota-kota lain. Pada saat itu, aku mencoba menyembuhkan diri dengan madu dan air zam-zam. Dan, aku menyaksikan kesembuhan yang ajaib dari keduanya. Coba pikirkanlah informasi Allah SWT tentang Al-Qur'an bahwa dia pada dirinya merupakan kesembuhan, dan juga firman Allah SWT tentang madu,

"Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (an-Nahl: 69)

Posting Komentar untuk "Bagaimana Lebah Berkembang Biak?"

Berlangganan via Email