Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pelajaran dari Ikan

Sekarang perhatikan ibrah dari ikan dan cara penciptaannya! Ikan diciptakan tanpa kaki karena ia tidak butuh berjalan sebab hidupnya di dalam air. la tidak diberi paru-paru karena fungsi paru-paru adalah untuk bernafas; dan ikan tidak memerlukannya karena ia hidup di dalam air. Sebagai ganti kaki, ia diberi sirip yang kuat untuk mendayung dari kedua sisinya, seperti orang yang naik perahu mengayuh dengan dayung pada pinggir perahunya. Kulit ikan dibungkus dengan sisik-sisik yang saling bertumpuk seperti tumpukan zirah (baju besi) untuk melindunginya dari penyakit dan cacat. Dan, dia dibantu dengan kekuatan indera penciuman, karena matanya lemah dan air menghalanginya, sehingga dia dapat mencium makanan dari jauh lalu mendekatinya.

Dalam sebuah buku tentang hewan disebutkan bahwa dari mulut sampai lubang telinga ikan terdapat lubang. Ikan memasukkan air ke dalam lubang-lubang itu dengan mulutnya dan melepaskannya melalui lubang telinga. Dengan begitu, ia mendapat kesegaran. Persis seperti hewan (darat) yang menghirup oksigen dengan hidungnya lalu melepaskannya lagi agar merasa segar—karena air bagi hewan yang hidup di air seperti udara bagi hewan darat.

Jadi, ada dua laut; salah satunya lebih lembut dari yang lain. Pertama adalah laut udara, tempat hewan darat berenang. Yang kedua adalah laut air, tempat hewan air berenang. Kalau masing-masing jenis hewan ini meninggalkan lautnya ke laut yang lain, ia akan mati. Sebagaimana hewan darat tidak dapat bernafas di air, hewan air juga tidak dapat bernafas di udara. Maha Suci Tuhan yang manusia tidak dapat menghitung ayat-ayat-Nya, dan tidak mengetahui detail satu ayat saja dari sekian ayat itu. Bahkan, apabila manusia dapat mengetahui satu sisi hikmah dari suatu ayat, ia tidak mengetahui sisi-sisi lain dari hikmahnya.

Mengapa ikan merupakan hewan yang paling banyak beranak? Anda lihat di dalam perut satu ekor ikan terdapat telur yang tak terhitung banyaknya. Hikmahnya: agar cukup untuk menjadi konsumsi berbagai macam hewan. Kebanyakan hewan makan ikan, termasuk hewan buas. Di hutan rimba, hewan-hewan buas menunggu di air yang jernih. Apabila tidak mendapat mangsa hewan darat, ia mengintai ikan dan menangkapnya. Karena hewan buas makan ikan, juga burung dan manusia serta ikan-ikan besar, maka Allah menjadikan ikan itu sedemikian banyaknya.

Kalau di laut manusia melihat berbagai macam hewan, permata, dan Iain-lain yang tidak terhitung kecuali oleh Allah SWT, dan manusia hanya tahu sedikit yang sama sekali tidak ada bandingannya dari yang tidak mereka ketahui, tentu manusia akan melihat keajaiban. Ia pasti akan menyadari betapa luas kekuasaan Allah SWT, serta betapa banyak tentara-Nya yang hanya Dia yang tahu.

Belalang adalah semburan salah satu ikan laut. Ia menyemburkannya dari lubang hidungnya. Dan, dia adalah salah satu tentara Allah SWT. Badannya lemah,dan bentuknya ajaib. Dia punya bentuk tujuh jenis hewan. Apabila gerombolannya telah datang, Anda menyaksikan tentara yang tak tertandingi, jumlah dan perlengkapannya tidak terhitung. Seandainya seorang raja mengumpulkan tentara dan persenjataannya untuk mengusirnya dari negeri, ia tidak akan sanggup. Lihatlah bagaimana belalang itu menyebar di bumi seperti air bah; meliputi dataran rendah, gunung, hutan dan kampung. Bahkan sampai menghalangi sinar matahari dengan jumlahnya yang banyak, menutupi langit dengan sayapnya, dan ia dapat terbang di angkasa ke ketinggian yang tidak dapat dijangkau oleh burung yang lebih besar sayapnya dari dia.

Maka, tanyailah orang yang ingkar, siapa yang mengutus tentara yang lemah ini, yang tidak dapat menghalau hewan yang ingin memangsanya, sebagai batu ujian bagi pasukan yang punya kekuatan, berjumlah banyak, dan mengerti strategi, sehingga mereka tidak sanggup mengusirnya? Mereka hanya dapat pasrah memandangnya, menyantap makanan mereka, dan merusak tanaman mereka. Mereka tidak dapat mengusirnya atau menghalaunya dari tanaman itu. Ini termasuk hikmah Allah SWT. Dia mengunggulkan makhluk-Nya yang lemah atas makhluk yang kuat sehingga dapat membalas dendam dan menimpakan kepadanya apa yang dia takuti tanpa dapat menghalaunya atau menghindar. Allah SWT berfirman,

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (al-Qashash: 5-6)

Demikianlah, istiqamah di jalan Allah dan iitsaar ridha-Nya dalam setiap keadaan dapat mengunggulkan orang yang lemah dan tertindas, sampai orang yang menindasnya tahu bahwa orang tersebut lebih berhak dan lebih dekat kepada Allah SWT dan rasul-Nya daripada dirinya. Akan tetapi, sejalan dengan hikmah Allah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, orang yang zalim makan dan bersenang-senang sebagai imbalan atas dosa-dosa orang yang dizalimi.

Jadi, dosa-dosa orang yang teraniaya adalah salah satu sebab rahmat untuk orang yang menganiayanya. Sebagaimana ditolaknya suatu permintaan, itu karena kebohongan dari yang meminta. Seandainya peminta tersebut jujur, tentu orang yang menolaknya tidak akan beruntung. Demikian pula pencuri dan penyamun. Perbuatan mereka adalah ganjaran atas hartawan yang tidak menunaikan kewajiban (hak-hak Allah) di dalam hartanya. Seandainya para hartawan menunaikan hak Allah dalam hartanya, tentu Allah akan melindungi hartanya.
Ini adalah tema yang besar dalam masalah hikmah Allah SWT. Orang yang merenungkannya akan mengetahui rahasia-rahasia takdir, penguasaan makhluk atas makhluk yang lain, dan rahasia keunggulan orang-orang yang durhaka dan berbuat dosa. Maha Suci Allah yang punya hikmah dan ayat yang luar biasa dalam segala hal. Sehingga, hewan-hewan yang mengganggu manusia, mengganggu rezeki dan badan mereka, hidup sebagai ganjaran atas perbuatan dosa mereka (manusia). Kalau tidak karena alasan ini, tentu Allah tidak menjadikan hewan-hewan tersebut mengganggu manusia. Mungkin pembahasan diskursif ini, bagi orang yang merenungkannya, lebih bermanfaat daripada beberapa pasal sebelumnya. Sebab, jika ia mau merenungi dan memikirkannya, maka ia akan dapat menarik banyak sekali manfaat darinya. Wallahul muwaffiq.

Dikisahkan, seorang peternak mencampur susu dengan air. Dia bermaksud menjualnya sebagai susu murni. Akan tetapi, Allah SWT mengirimkan banjir yang memusnahkan kambingnya. Ia heran. Dan pada saat tidur, ia bermimpi ada yang menanyainya, "Apakah kamu heran bagaimana banjir itu mengambil kambingmu? Banjir itu adalah tetesan-tetesan air yang kamu campurkan ke dalam susu. Tetesan-tetesan itu terkumpul dan menjadi air bah."

Kalau Anda bandingkan hikayat ini dengan peristiwa yang menimpa diri Anda atau Anda lihat pada diri orang lain, Anda akan tahu bahwa Allah SWT menegakkan keadilan, dan bahwa Dia menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya, dan bahwa Dia tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah. Dalam dongeng Israiliyat yang terkenal disebutkan, seorang lelaki mencampur arak (dengan air) dan menjualnya dengan harga arak murni. Ia mendapatkan keuntungan sekantong emas. Lalu ia bepergian dengan hasil itu. Ia berlayar di lautan dengan ditemani seekor kera miliknya. Saat ia tidur, kera itu mengambil kantong emas tersebut dan memanjat ke atas layar perahu. Ia membukanya dan kemudian melemparkan sebagian emas itu di air dan sebagiannya ke atas perahu. Seakan-akan ia ingin menyatakan 'harga air itu kembali ke air, dan Dia tidak menzalimi kamu'.

Perhatikan hikmahnya Allah SWT menahan hujan dan menguji hamba-hamba-Nya dengan paceklik jika mereka tidak mau membayar zakat dan menghalangi hak kaum miskin! Lihatlah, ketika mereka tidak memberi bahan makanan kepada kaum fakir, mereka dibalas oleh Allah dengan menahan turunnya hujan yang merupakan sebab tumbuhnya bahan makanan. Dia berfirman kepada mereka dengan lisanul haal, "Kalian menahan hak (kaum fakir), maka kalian tidak Aku beri hujan. Kenapa kalian tidak meminta turunnya hujan dengan memberikan karunia Allah yang kalian pegang kepada mereka?"

Perhatikan hikmahnya Allah SWT menghalangi hidayah dan iman dari hati orang-orang yang memalingkan orang lain dari-Nya! Dia menghalangi mereka dari-Nya sebagaimana mereka menghalangi hamba-hamba-Nya. Ganjaran yang adil; menghalangi dibalas dengan menghalangi.

Lihatlah hikmahnya Allah SWT memusnahkan harta rentenir (pemakan riba) dan menimpakan bencana-bencana atas harta itu sebagaimana mereka menghabiskan harta orang lain dengan riba. Mereka dibalas dengan kemusnahan hartanya. Sering Anda lihat, orang yang makan riba pasti akhirnya menemui kebinasaan dan kemiskinan.

Perhatikan hikmah Allah SWT ketika menjadikan musuh menguasai hamba-hamba-Nya jika yang kuat telah berbuat aniaya terhadap yang lemah, dan yang terzalimi tidak diberikan haknya! Lihatlah bagaimana Allah menjadikan pemimpin-pemimpin yang zalim itu ditundukkan oleh musuh yang kemudian memperlakukan mereka, persis seperti perlakuan mereka terhadap rakyat mereka. Ini adalah sunatullah semenjak ada dunia sampai kiamat.

Dan, perhatikan hikmah Allah SWT menjadikan para raja dan pemimpin rakyat sesuai dengan amal-amal mereka, seakan-akan amal-amal mereka muncul dalam bentuk pemimpin-pemimpin dan raja-rajanya. Apabila rakyat istiqamah, maka akan istiqamah pula raja mereka. Apabila mereka adil, raja juga adil terhadap mereka. Apabila mereka zalim, para raja itu juga akan berbuat aniaya terhadap mereka. Apabila mereka melakukan tipu daya dan kecurangan, maka para pemimpin mereka juga seperti itu. Kemudian, jika mereka menahan hak-hak Allah SWT di tangan dan bakhil, maka para raja dan pemimpin itu juga tidak memberi hak mereka. Apabila rakyat mengambil apa yang bukan haknya dari orang yang lemah dalam muamalah, maka para raja itu juga akan mengambil apa yang bukan hak mereka dan menetapkan pajak dan riba atas mereka. Dan, setiap kali mereka memeras orang yang lemah, maka para raja akan mengambilnya lagi dengan paksa.

Jadi, para pemimpin muncul sesuai dengan amalan-amalan rakyatnya.
Di antara hikmah ilahi adalah mengangkat pemimpin untuk orang-orang yang sesat dan zalim dari kalangan orang-orang yang seperti mereka. Dan, mengingat generasi pertama (Islam) adalah masa yang terbaik, maka begitu pula para pemimpin pada masa itu adalah yang terbaik. Ketika para rakyat itu mulai menyimpang, maka para pemimpin mereka juga menyimpang. Jadi, sesuai dengan hikmah Allah SWT, tidak mungkin pada masa seperti sekarang ini kita memiliki pemimpin seperti Mu'awiyah dan Umar bin Abdul Aziz, apalagi seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Para pemimpin kita sama dengan kadar (kebaikan dan keburukan) kita, dan para pemimpin sebelum kita sama dengan kadar mereka. Masing-masing sejalan dengan hikmah.

Orang yang punya kecerdasan, apabila merenungkan masalah ini, menemukan hikmah ilahi berjalan seiring dengan Qadha' dan Qadar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, persis seperti hikmah tersebut seiring dengan khalq (penciptaan) dan amr (agama, syariat). Jangan sampai Anda menyangka qadha dan qadar Allah SWT tidak mengandung hikmah. Semua qadha dan qadar Allah SWT terjadi sesuai dengan hikmah dan kebenaran yang paling sempurna. Tetapi, karena keterbatasan dan kelemahan akalnya, manusia tidak sanggup memahaminya, sebagaimana mata kelelawar—karena lemah—tidak sanggup bertemu sinar matahari. Akal-akal yang lemah ini, apabila berjumpa dengan kebatilan, akan menerima dan menyebarkannya; seperti kelelawar yang terbang di saat kegelapan malam telah datang.

"Cahaya siang menyilaukan pandang kelelawar
Karena itu ia pantas ditemani bagian malam yang gulita."


Perhatikan hikmah-Nya dalam hukuman terhadap umat-umat masa lampau dan variasinya sesuai dengan variasi dosa dan kejahatan mereka, seperti firman-Nya,

"Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalang-halangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. Dan (juga) Karun, Fir'aun, dan Haman. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (al-Ankabuut: 38-40)

Perhatikan hikmah Allah SWT mengubah sebagian umat menjadi bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan kejahatan mereka. Ketika hati telah berubah menjadi seperti hati dan tabiat hewan, hikmah menuntut bentuk raga mereka diubah menjadi bentuk binatang-binatang tersebut agar persamaannya menjadi lebih sempurna. Ini adalah hikmah yang luar biasa.

Lihat saja mereka yang dirubah menjadi kera dan babi; sifat-sifat binatang ini ada pada diri, akhlak, dan perbuatan mereka. Kemudian, jika Anda ingin tahu tandanya, lihatlah wajah dan perilaku hewan-hewan yang serupa dengan mereka. Anda lihat watak-watak binatang itu tampak pada diri mereka meski tertutup oleh rupa manusia. Perhatikanlah kera sebagai perwajahan para penipu dan kaum fasik yang tidak punya akal. Mereka adalah manusia yang paling lemah akal, paling besar tipu daya dan kefasikannya. Jika Anda tidak melihat kopian kera pada muka-muka mereka, maka Anda belum bisa digolongkan orang-orang yang bisa mengenali tandanya.

Sekarang tiliklah kopian babi dalam wajah dan perilaku mereka, terutama musuh-musuh hamba Allah SWT yang terbaik setelah para rasul, yakni para sahabat Rasulullah SAW.. Kopian ini tampak jelas pada wajah-wajah kaum Rafidhah. Orang mukmin, baik buta huruf atau tidak, dapat membacanya. la menjadi tampak atau samar sesuai dengan derajat kotornya hati. Babi adalah hewan paling kotor dan punya tabiat paling hina. Di antara perilakunya yang khas, ia meninggalkan barang-barang yang baik, tidak memakannya. Bila seseorang selesai buang air besar, babi cepat menyantapnya.

Perhatikan kesesuaian sifat ini pada diri musuh-musuh para sahabat. Mereka memusuhi makhluk Allah SWT yang paling baik dan paling suci, dan berteman dengan semua musuh mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani serta orang-orang musyrik. Pada setiap masa mereka memerangi orang-orang mukmin yang setia kepada para sahabat rasul dengan bantuan kaum musyrikin dan kafir, serta menyatakan bahwa mereka lebih baik dari para sahabat. Adakah persamaan yang lebih pas dan tepat untuk manusia seperti ini daripada persamaan dengan babi? Jika Anda tidak melihat kopian babi pada muka-muka mereka, maka Anda belum bisa digolongkan orang-orang yang bisa mengenali tandanya.

Adapun riwayat yang hampir mencapai derajat mutawatir yang menceritakan perubahan bentuk mereka pada saat mati menjadi babi terlalu banyak untuk disebut di sini. Dan, al-Hafizh Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisy telah menyusunnya dalam satu buku.

Perhatikanlah hikmah Allah SWT menghukum umat-umat terdahulu dengan azab isti'shal (yang menghabisi mereka sampai ke akar-akarnya) karena umur mereka lebih panjang, kekuatan mereka lebih besar, dan mereka lebih membangkang kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Karena usia manusia (zaman kini) makin pendek dan kekuatan melemah, maka azab isti'shal tidak diturunkan. Azab mereka ditimpakan melalui tangan orang-orang beriman. Jadi, hikmah pada kedua azab itu sesuai dengan tuntutan zamannya.

Perhatikanlah hikmah Allah SWT mengutus para rasul untuk setiap umat satu demi satu. Setiap kali seorang rasul meninggal, dia diganti oleh yang lain, karena umat manusia membutuhkan diutusnya para rasul dan nabi secara silih berganti. Itu karena akal mereka lemah dan tidak cukup dengan bekas syariat dari rasul terdahulu. Ketika kenabian sampai kepada Nabi Muhammad saw., Dia mengutusnya kepada umat yang paling sempurna akal dan ilmu pengetahuannya. Dia mengutusnya membawa syariat paling lengkap yang pernah muncul di muka bumi semenjak ada dunia sampai kiamat nanti.

Makanya, dengan rasul, syariat, dan akal yang sempurna, Allah SWT menjadikan mereka tidak memerlukan seorang Nabi yang diutus setelah beliau. Dia mengadakan dari kalangan umat beliau, para pewaris yang menjaga syariat-Nya. Dia mewakilkan syariat itu kepada mereka untuk disampaikan kepada rekan-rekan mereka, dan mereka tanamkan ke dalam hati generasi setelahnya. Dengan demikian, mereka tidak memerlukan seorang rasul, nabi, atau pembaru yang lain. Oleh sebab itu, Nabi saw., bersabda,

"Pada umat-umat sebelum kalian ada pembaru-pembaru. Kalau di umatku ada, maka dia adalah Umar."(HR Bukhari dan Muslim)

Di sini Rasulullah menyatakan adanya para pembaru di kalangan umat-umat terdahulu secara pasti, tapi beliau menggantungkan keberadaannya di umat beliau dengan syarat (pengandaian).

Ini bukan menandakan kekurangan umat ini jika dibanding dengan umat terdahulu. Bahkan sebaliknya, hal seperti ini menandakan kesempurnaan umat Muhammad saw.. Karena kesempurnaan umat ini, dan kesempuraan Nabi, serta syariatnya, maka mereka tidak memerlukan pembaharu. Bahkan kalaupun ada (pembaru), ia boleh diikuti, tapi bukan sebagai patokan. Karena, dengan syariat yang dibawa Nabi saw.., umat ini tidak memerlukan ilham atau pembaharuan. Sedang umat terdahulu, karena mereka membutuhkannya, diadakanlah para pembaru pada mereka.

Jangan menyangka disebutkannya nama 'Umar' dalam hadits di atas, menunjukkan dia lebih utama dari Abu Bakar. Sebaliknya, ini merupakan salah satu kelebihan Abu Bakar. Karena beliau telah banyak menenggak dari telaga kenabian, dan menyusu dari susu risalah, maka hal itu mencukupkannya sehingga tidak memerlukan ilham atau lainnya. Yang diterima Abu Bakar dari cahaya kenabian lebih sempurna daripada pembaruan yang diperoleh Umar.

Perhatikanlah hal ini baik-baik! Perhatikan pula hikmahnya yang luar biasa yang membuktikan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Bijak dan Maha Tahu, bahwa rasul-Nya adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan paling lengkap syariatnya, dan bahwa umat beliau adalah umat yang paling sempurna.

Ini sekedar pembahasan tambahan, tapi tergolong paling bermanfaat dalam kitab ini. Kalau tidak takut terlalu panjang, tentu akan kami perluas pembahasannya dan kami perbanyak dalil dan contohnya. Allah SWT Yang Maha Mulia telah membukakan pintu (taufik-Nya) dan menunjukkan kepada kebenaran. Hanya kepada-Nya kita berharap karena karunia-Nya tiada tara. Dan, tiada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah SWT Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Silahkan klik "Halaman Ke :" berikut untuk melanjutkan / mengembalikan membaca. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Pelajaran dari Ikan"

Berlangganan via Email