Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar dari Anak Hewan

Sekarang perhatikan anak-anak hewan berkaki empat. Bagaimana anak-anak hewan itu mengikuti induk mereka secara mandiri, tidak perlu digendong dan dididik seperti anak-anak manusia. Karena induk hewan tidak memiliki kemampuan dan sarana yang dimiliki ibu manusia seperti pendidikan, kelembutan, dan alat-alat.

Allah Yang Maha Lembut dan Maha Tahu memberi anak-anak hewan kemandirian saat dilahirkan. Oleh sebab itu, Anda lihat anak-anak berbagai jenis burung, misalnya ayam, telah berjalan dan mematuk mencari makan begitu keluar dari telur. Sedang bagi hewan yang lemah, untuk dapat bangkit seperti anak merpati dan burung tekukur, Allah SWT memberi induknya kasih sayang dan cinta sehingga dia mau mengeluarkan makanan dari tembolok dan menyuapkannya ke dalam mulut anak-anak mereka. Jadi, sang induk menyembunyikan makanan di dalam tempat paling berharga lalu diberikannya melalui mulut ke dalam mulut anak-anaknya. Hal seperti ini terus dilakukannya sampai si anak dapat mandiri. Semua bentuk kasih sayang itu merupakan bagian yang diterimanya; bagian dari satu persen rahmat.

Apabila anak burung itu telah mandiri dan dapat terbang, ibu bapaknya terus mengajarinya dengan segala kelembutan dan kasih sayang sampai dia terbang dari sarangnya dan dapat mencari makan sendiri. Selanjutnya, anak-anak burung itu makan bersama ibu bapaknya. kedua orang tua burung itu seolah tidak mengenal bekas anaknya tersebut. Anak burung itu pun tidak mengenal mereka berdua, bahkan kedua orang tua itu mengusirnya dari sarang; tidak membiarkannya memakan makanan mereka di sarang. Kedua orang tua itu berkata kepada sang anak dengan bahasa yang dipahaminya, "Buatlah sarang dan carilah makanan untuk dirimu sendiri! Tidak ada tempat tinggal dan makanan untukmu bersama kami."

Tanyalah orang yang ingkar. Apakah ini terjadi secara kebetulan? Siapa yang mengilhaminya? Siapa yang membuatnya mengasihi anaknya yang masih kecil, saat dia amat membutuhkannya; lalu mencabut kasih sayang itu bila si anak tidak lagi membutuhkannya? Itu adalah rahmat Tuhan terhadap sang induk agar ia dapat memenuhi kebutuhannya. Sebab, kalau terus-menerus menyuapi anaknya, tentu urusan kehidupannya sendiri terabaikan, terutama jika kebutuhan makan anak-anaknya banyak.

Jadi, Allah SWT memberinya sifat kasih sayang dan iitsaar terhadap anaknya sebagai rahmat terhadap anak burung itu. Dan, Dia mencabut sifat kasih sayang tersebut ketika anak-anak itu telah mandiri—sebagai rahmat terhadap sang induk. Apa bisa dikatakan bahwa semua ini terjadi tanpa pengaturan Tuhan yang Maha Bijaksana, tanpa perhatian dan rahmat-Nya?! Sesungguhnya, telah jelas dalil-dalil dan tanda-tanda yang membuktikan ketuhanan-Nya juga hikmah dan qudrah-Nya. Akal tidak dapat mengingkarinya. Hanya saja, di mulutnya orang tetap ingkar dan kafir.

"Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" (Ibrahim: 10)

Keraguan ada dan terjadi hanya pada masalah yang dalil-dalilnya masih samar atau belum jelas bukti-buktinya. Adapun Tuhan yang segala hal kongkrit dan abstrak menjadi bukti keberadaan dan bukti bahwa Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Tuhan Sekalian Alam, bagaimana ada keraguan terhadap-Nya!?

Posting Komentar untuk "Belajar dari Anak Hewan"

Berlangganan via Email