Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Binatang Buas Mencari Tempat Kematiannya Sendiri

Kemudian perhatikanlah hikmah menakjubkan yang ada pada hewan ternak, buas, liar, dan hewan-hewan melata. Hewan-hewan yang sedemikian banyaknya itu tidak terlihat darinya sesuatu pun. Dan, tidaklah hewan-hewan tersebut jumlahnya sedikit, sehingga tidak terlihat karenanya. Akan tetapi, justru disinyalir bahwa jumlahnya lebih banyak daripada jumlah manusia. Bayangkan saja hewan yang kamu lihat di padang pasir, berupa kumpulan kijang, lembu, anjing, serigala, macan, singa, dan binatang-binatang darat lainnya. Juga burung-burung yang jumlahnya jauh berlipat daripada jumlah manusia. Hampir Anda tidak melihat ada yang mati di antara mereka; baik di tempat tinggalnya, sarangnya, di jalan-jalannya, tempat minumnya, atau tempat mencari makannya kecuali yang menjadi korban suatu peristiwa. Entah karena dimangsa hewan buas, atau tertembak pemburu, atau korban dari kejadian yang lain yang menyebabkan dia atau kawanannya tidak sempat memendam dan menyembunyikan bangkainya.

Ini menandakan bahwa apabila mereka merasa akan mati dan tidak dapat mempertahankan nyawa, mereka menyembunyikan diri sehingga jasadnya tidak dapat dijangkau. Mereka menguburkan badannya sebelum ajal menjemput. Kalau tidak begitu, tentu padang pasir sudah penuh dengan bangkai mereka, udara rusak oleh baunya. Lalu kerugiannya pun kembali kepada manusia. Bahkan, itu bisa menjadi sarana timbulnya wabah penyakit yang membahayakan manusia. Ini ditunjukkan dengan firman Allah SWT tentang kisah dua anak Nabi Adam,

"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini. 'Karena itu, jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (al-Maa'idah: 31)

Adapun hewan yang hidup di tengah manusia, seperti hewan ternak dan binatang melata, maka dikarenakan manusia mampu memindahkannya dan sanggup menghindari bahayanya, hewan-hewan itu tidak memiliki tabiat seperti yang dimiliki binatang-binatang liar di atas. Maka, perhatikanlah hal (penguburan jenazah) yang mana anak Adam (Qabil) sendiri bingung apa yang harus dilakukannya. Bagaimana hal itu telah menjadi tabiat hewan, dan bagaimana manusia mempelajarinya dari burung.

Perhatikanlah juga hikmah Allah SWT mengutus seekor burung gagak (ghurab) kepada anak Adam. Nama burung ini, yaitu ghurab, dalam bahasa Arab berarti menandakan ghurbah keterasingan/jauhnya) si pembunuh dari saudaranya; juga jauhnya dari rahmat Allah, orang tua, dan keluarganya. Burung jenis ini termasuk burung yang tidak disenangi manusia, juga tidak disenangi suaranya. Allah SWT mengutus burung yang tak disenangi seperti ini kepadanya untuk menjadi layaknya pengajar dan guru, sementara dia menjadi seperti seorang murid.

Tidak ada yang menyangkal adanya hikmah dalam hal ini, juga hubungan benda-benda dengan namanya. Nabi saw. bersabda,

"Apabila kalian mengutus utusan kepadaku, utuslah orang yang namanya baik dan wajahnya tampan."(HR Baghawi dan Ibnu Addi)

Beliau juga menanyakan nama daerah yang disinggahi, juga nama utusan apabila datang kepada beliau. Ketika Suhail bin Amru datang sebagai utusan Quraisy pada perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw. bersabda, "Urusan kalian menjadi mudah."

Ketika hendak mengganti nama Hazn dengan nama Sahl, beliau bersabda,

"Makna namanya terus ada padanya dan pada keturunannya."(HR Bukhari)

Umar bin Khaththab r.a. bertanya kepada seseorang tentang namanya, nama bapaknya, dan tempat tinggalnya. Orang itu menjawab namanya adalah Jamrah bin Syihab, rumahnya di daerah al-Hirqah, dan di antara perkampungannya bernama Dzaatu Lazhaa. Mendengar itu Umar berkata, "Pulanglah ke rumahmu! Rumahmu telah terbakar." Dan, memang benar, rumah orang itu telah terbakar. Bukti-bukti tentang hubungan benda-benda dengan namanya terlalu banyak untuk kami sebutkan di sini.

Dan, ini adalah bab ringan yang membahas tentang hubungan/korelasi antara benda dan namanya. Manusia dari dulu hingga sekarang banyak memperhatikan suara gagak; menjadikannya sebagai tanda kematian, keterasingan, dan mengaitkannya dengan ramalan buruk. Mereka tidak menyukai suara burung ini, sebaliknya burung ini juga tidak menyukai manusia. Maka, pantaslah burung ini yang diutus ke anak Adam yang membunuh saudaranya, bukan burung lain. Jangan dikira bahwa pengutusan burung gagak ini terjadi secara kebetulan tanpa ada hikmahnya! Apabila hikmahnya tidak tampak olehmu, maka janganlah kamu menafikannya. Ketahuilah bahwa samarnya suatu hikmah menandakan begitu lembut dan mulianya hikmah tersebut. Dan, hal-hal yang tidak diketahui hikmahnya oleh manusia, sebenarnya terdapat hikmah yang mengandung tujuan-tujuan mulia di mata Allah SWT.

Posting Komentar untuk "Binatang Buas Mencari Tempat Kematiannya Sendiri"

Berlangganan via Email