Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makrifat

Bacaan sebelumnya DI SINI

Makrifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. yaitu perpaduan dari syariat-tarikat-hakikat yang nantinya menuju kepada “mengenal Allah dan keilmuan (kunci/kode) alam semesta yang termuat dalam Al Quran serta mentaati syariat Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW sendiri menjanjikan hal ini dan baginda pernah menyebut bahwa umatnya dapat melihat Allah SWT di saat fana maupun jaga (sadar). Kezahiran-Nya sangat nampak pada hamba.

Al insanu syirri wa ana syirrohu

Artinya: “Adapun insan itu Rahasiaku dan Aku pun Rahasianya”.

Khalakal insanu ala surati Rahman

Artinya: “Kuciptakan Adam dan anak cucunya seperti rupaKu”

Kesimpulannya, INSAN itu terdiri daripada tiga unsur, yaitu Jasad, Ruh (Nyawa) dan Allah. Adapun Jasad, Nyawa, dan Allah Ta’ala, bagaikan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Umpama langit, bumi, dan makhluk yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dari segi makrifat Allah SWT itu Esa pada wujud hamba.

QS. Al Qaf:16 : “Aku lebih dekat dari urat lehernya”.
QS. Az Zariyat : 21 : “Dalam diri kamu mengapa tidak kamu perhatikan”
QS. Al Hadid : 4 : “Aku beserta hambaku di mana saja dia berada”.

Sekarang, mari kita lihat pula bagaimana Nabi Musa melihat Tuhannya, seperti yang diceritakan di dalam Al Quran. Allah SWT berfirman mengisahkan permintaan Musa untuk melihatNya QS Al A’raaf : 143:

“Dan tatkala Nabi Musa datang pada waktu yang kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata:” Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku (Dzat-Mu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihat-Mu.” Allah berfirman: ”Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku”.

(Rahasianya : Tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah, hanya Allah dapat melihat Allah).

Karena orang beriman selalu memandang tajalli kekuasaan Allah SWT secara nyata pada ainul yakin (pandangan keyakinan) yang bergerak pada alam semesta dan kekuasaan haqqul yakin (pandangan mata hati) yang bernuansa secara gaib yang bergerak dalam batin dan pada unsur bayang-bayang kekuasaan Allah SWT. Diatasnya haqqul yakin masih ada lagi kamalul yakin (kesempurnaan keyakinan) dan keyakinan ini bisa dirasakan setelah kita telah berjumpa dengan Allah di akhirat nanti. Namun ada juga bagi orang-orang khusus dicintai-Nya yang telah diberi hidayah karomah-Nya dan yang telah dibukakan hijab-Nya pada “kamalul yakin” di dalam dunia.

Adapun nasehat/dalil tentang kewajiban ber-Makrifat:
  1. Awaludin Ma’rifatullah.
    Artinya : Awal agama adalah mengenal Allah.
  2. Layasul Shalat Illa Bin Ma’rifat.
    Artinya : Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah.
  3. Man Arafa Nafsahu Fakade Arafa Rabbahu.
    Artinya : Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia pasti akan mengenal Tuhannya.
  4. Alastubirabbikum Qolu Bala Syahidna.
    Artinya: Bukankah aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi. (QS. Al-Araf : 172)
  5. Al Insannu Sirri Wa Annallahu Sirruhu.
    Artinya : Manusia itu rahasiaKu dan Aku-pun (Allah) rahasia baginya.
  6. Wafi Amfusikum Afala Tubsiruun.
    Artinya : Aku (Allah) ada di dalam jiwamu, mengapa kamu sendiri tidak dapat melihat (Q.S. Adz-Dzariyat: 21)
  7. Wanahnu Akrabi Min Habil Wariz.
    Artinya : Aku (Allah) lebih dekat dari urat nadi lehermu.
  8. Laa Tak Budu Rabbana Lam Yarah
    Artinya : Aku tidak akan menyembah Allah bila aku tidak melihat-Nya lebih dahulu.
  9. Innahu Alimun Bizatish Shudur.
    Artinya : Sesungguhnya Aku (Allah) Maha Mengetahui segala isi hati (Q.S Al Mulk:13).
  10. Wa Huwa Ma Akum Ainama Kuntum.
    Artinya : Aku (Allah) berada dimana saja kamu berada. (Q.S. Al-Hadid: 4).
  11. Kemanapun Engkau Hadapkan Wajahmu Disitulah Wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115).

Bacaan selanjutnya DI SINI

Wa'alaikumussalam Wr. Wb

Berlangganan via Email