Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar dari Burung

Kemudian perhatikan bentuk badan burung! Ketika ditakdirkan untuk dapat terbang di udara, maka badannya dibuat ringan dan bentuknya ringkas. kaki yang biasanya empat hanya dua. Jarinya pun hanya empat, padahal umumnya lima. Hanya ada satu saluran untuk keluarnya kencing serta berak, padahal biasanya masing-masing punya saluran yang terpisah.

Burung memiliki haluan yang sempit agar dapat menembus udara dengan mudah ke arah manapun dia menuju, seperti bagian depan perahu dibuat sedemikian rupa agar membelah dan menembus air dengan cepat. Di kedua sayap dan ekornya ada bulu-bulu yang panjang dan kuat untuk dikepakkan saat terbang. Seluruh badannya ditutupi oleh bulu-bulu agar udara masuk di sela-selanya sehingga membuat tubuhnya ringan di angkasa.

Karena ditakdirkan makanannya adalah daging dan biji, yang ditelannya begitu saja tanpa dikunyah, maka dia tidak diberi gigi. Tapi, dia diberi paruh yang keras sehingga tidak rusak bila dipakai mematuk biji-bijian dan tidak bengkok bila dipakai menyantap daging. Karena tidak punya gigi, dan dia menelan biji-bijian dalam keadaan utuh, dan daging yang masih segar, maka ia dibantu dengan suhu lambungnya yang amat panas untuk menggiling biji dan memasak daging, sehingga dia tidak perlu mengunyah makanannya. Yang menjadi bukti akan tingginya suhu lambung burung ini, adalah Anda bisa melihat biji kismis dan sejenisnya keluar dari perut manusia dalam keadaan masih utuh. Tapi, jadi lebur di dalam perut burung sampai tidak lagi terlihat bekasnya.

Kemudian, sesuai dengan hikmah-Nya, burung itu bertelur, tidak melahirkan, agar tidak memberatkannya ketika terbang. Seandainya burung hamil dan kandungannya berada di perut sampai membesar, tentu akan memberatkan dan menghalanginya terbang. Perhatikan juga hikmah burung yang bisa terbang bebas di udara itu, mengilhami dirinya supaya sabar untuk waktu satu atau dua minggu secara suka rela, sambil duduk menunggui, mengerami telurnya, dan menanggung beratnya terkekang seperti itu. Lalu bila telurnya telah menetas, dia menanggung beban mencari makanan dan mengumpulkan biji-bijian di dalam temboloknya, lalu menyuapi anaknya.

Padahal, burung tidak punya pikiran atau suatu pengharapan terhadap anaknya seperti yang diharapkan manusia dari anaknya; semisal bantuan, kasih sayang, dan kenangan. Perilaku burung ini menunjukkan bahwa dia memiliki rasa kasih sayang terhadap anaknya karena suatu sebab yang tidak diketahuinya. Dia tidak berpikir tentang kelangsungan keturunan ketika mengasihi anaknya seperti itu.

Posting Komentar untuk "Belajar dari Burung"

Berlangganan via Email